Sabtu, 11 Juni 2016
Bbaiti Bytieh Blog: Kiblat Masjid UINSA Berubah???
Bbaiti Bytieh Blog: Kiblat Masjid UINSA Berubah???: Baiti rahma Surabaya, 12 Juni 2016 Pengen makan, aku lapar sekali. Beruntung, ada penjual lontong kupan...
Selasa, 07 Juni 2016
GUNDUL PACUL
Baiti Rahma
Surabaya, 07/06/16
Anak-anak itu berderu setiap pagiMereka polos tapi penuh misiMereka sederhana tapi menggugah hatiTanpa unsur ingin dipujiMereka menyanyi dengan santaiMereka memanggil ibu-ibu dari mimpiMereka membangunkan bapak-bapak dari tidur malam iniPukul dua dini hariMereka mulai mengitariBerjalan tanpa berlariMemukul alat dengan rapi sekaliGundul-gundul pacul bukanlah lirik tiada artinyaSorak sahur-sahur bukan kata tanpa maknaGundul Pacul berarti kepala tanpa mahkotaBerarti Petinggi penuh wibawaBerarti pemimpin tanpa mengharap dimuliaPacul papat kang uculMata, telinga, hidung dan mulut untuk kebaikan yang harus munculTak baik jika pemimpin bertitah gembelenganbercongkak hati dengan kekuasaanlagi, Nyunggi wakul gembelenganwakul adalah simbol kesejahteraanLupa bahwa bakul-amanah sedang ia embanWakul ngglimpang segane dadi sak latar, akhirnyaBakul terguling nasi tumpah kemana-manaGagal-lah ia mengemban amanahGundul-gundul pacul masih mereka nyanyikan dengan iramaNampaknya mereka begitu bahagiaMereka bagitu istiqomahDengan semangat menyala-nyalaMenggoda lelap agar mata terbuka
Label:
bahagia,
bangun,
bapak-bapak,
gundul pacul,
ibu-ibu,
irama,
menyanyi,
mimpu,
pagi,
sahur
Senin, 06 Juni 2016
Bbaiti Bytieh Blog: GUNDUL PACUL
Bbaiti Bytieh Blog: GUNDUL PACUL: Baiti Rahma Surabaya, 07/06/16 Anak-anak itu drumband setiap pagi Mereka polos tapi penuh misi Mereka sederhana ta...
Minggu, 05 Juni 2016
Cece momy Crafter
Baiti Rahma
Surabaya, 05/06/16
Mereka adalah pemilik mata sipit, para cece-cece yang murah hati, para kakak keturunan tionghoa berkulit putih yang dermawan sekali, Bukannya menarik harga malah memberi nilai.
Surabaya, 05/06/16
"Sidoarjo, kota lumpur nun jauh di mata. Kota angkot warna kuning kulit pisang. Kota penuh pesona ketika malam. Tapi hari ini belum juga malam, masih siang penuh lalu lalang kendaraan".Jl. Mangonsidi 104 Sidoarjo, daerah yang mana?, yang jelas pasti sangat jauh, lebih dari lima lampu merah terlewati, tetap saja tak sampai. Apakah masih jauh pak?, ya mbak. Ah, diri ini telah menjadi letih, bergantung pada kebaikan pak sopir mengantar kami, menuju tempat yang belum pernah kami kunjungi. Berbekal kotak, tapi bukan kotak nasi, adanya lem tembak, gunting dan benang juga jarum. Orang bilang kita mau piknik, seperti anak-anak dengan bontotan penuh isi. Yang benar saja mau piknik, kita sedang bingung mencari alamat.
"100, 101, 102, 104....ya itu pak tempatnya, tapi apa betul?".
Ya betul mbak, itu tulisannya 104, dan ini daerah Mangonsidi.Kami turun menuju sebuah tempat, di sana berdiri seorang lelaki, penjaga pintu mengamati, sepertinya ia ingin bertanya, mau kemanakah kami?, dengan busana penutup kepala.
"Apa ndak salah alamat??", katanyaMemang, ketika kulihat agak dekat samar-samar terlihat patung seorang dewi di atas sebuah kolam, juga ada patung-patung lain seperti pujaan.
"jangan-jangan kita memang salah alamat mbak", aku berkata pada temanku
"Iya dek, Jangan-jangan kita memang salah alamat".Ternyata tidak, pikiran itu segera hilang ketika seorang perempuan bermata sipit menyapa kami.
"Mau ikut pelatihan ya, mari masuk".
"Mbaaak, lihat ke atas, Salib dipasang di pintu, apakah ini sebuah tempat ibadah sedangankan kita tak sama dengan mereka, ayo pulang kita salah alamat". bisik-bisik kali ini tanpa suaraAda perasaan was-was, karena ini kali pertama berada dalam aula yang tak sama. sekejap hening, tak lama berlalu ruangan mulai ramai.
"Assalamualaikum, sekali, assalamualaikum dua kali, assalamualaikum tiga kali dan seterusnya". Silih berganti peserta pelatihan datang. oh ternyata.......aku telah berprasangka.Manusia tempatnya salah dan dosa, belum-belum sudah berprasangka, tak baik pula. kali ini bukan kajian tentang agama, lakum diinukum waliyadin. Tidak ada campur tangan aqidah di kelas kita. Ini adalah momen karya seni, ini adalah sore berbagi, ini adalah saat bertemu para crafter dan pembuat kerajinan tangan. Bayangan-bayangan tentang kali pertama, bayangan-bayangan tentang prasangka bergantilah sudah.
Mereka adalah pemilik mata sipit, para cece-cece yang murah hati, para kakak keturunan tionghoa berkulit putih yang dermawan sekali, Bukannya menarik harga malah memberi nilai.
"Saya senang sekali bertemu para Crafter, para creator Handmade, para ibu muda dan juga remaja yang tak suka jadi pengangguran, para wanita yang tidak melulu mengoyak jatah suami, para wanita yang bisa bekerja tanpa batas waktu. Saya ucapkan banyak terima kasih, rekan-rekan telah berkenan hadir dalam pelatihan ini". kata Ce FanglingDi akhir sesi, barulah paham diriku ini, mereka adalah sahabat yang paling bersahabat. Yang tidak juga suka menuntut, seperti kata banyak orang,
"Orang mata sipit itu suka perhitungan".
Sabtu, 04 Juni 2016
Mas, aku minta CUTI sehari!!
Baiti Rahma
Sebagai lulusan SMK, minat melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi bukanlah prioritas utama, pun demikian halnya dengan mengajar
di sekolah-sekolah. Para siswa pada semester pertama kelas sepuluh lebih sering
dijejali teori-teori keahlian dari pada materi pelajaran, IPA nya saja IPA terpadu,
IPS nya saja IPS terpadu, Matematika-pun Matematika dasar. Mata pelajaran hanya
gambaran umum sebagai bekal Ujian Nasional.
Ya, kata orang “lulus SMK bisa langsung kerja”,
kata orang lagi “SMK itu sekolah mahal, banyak biaya dan siswanya Mbeling-mbeling
(nakal). Tapi itu kata orang, kata mereka yang anak-anaknya sekolah di
sekolah umum, yang terkenal pandai, yang umum dengan buku-buku, yang pakai kaca
mata dan giat belajar.
Itu hanyalah stigma, bagi mereka yang takut Nyemplung,
bagi mereka takut basah-basahan. SMK tidak semiring itu, buktinya,
banyak juga alumni SMK yang punya gelar sarjana, banyak anak SMK yang bukan
hanya pekerja, banyak dari mereka yang bisa mengajar di sekolah-sekolah, bahkan
kelebihan mereka tak banyak dimiliki orang lain.
Sekarang mana ada ada anak yang tidak Mbeling, santri
sekalipun kadang ada juga yang menyusup keluar pondok, anak SMA keluyuran
ketika jam pelajaran. Lalu apa bedanya memilah-milah tingkatan anak sekolah. Baik
SMA, SMK atau Aliyah juga bisa berkarya. Tidak berhenti saja setelah wisuda. Yang
laki-laki kerja yang perempuan nikah, Selesai.
“Sudahlah ndak usah melanjutkan nduk, perempuan tugas
ahirnya pasti di dapur, masak, nyuci piring, ngurus anak, nyapu, nyiapin baju
kerja suami”. Sudah itu saja, terima kodrat sebagai perempuan. Kata bude,
bulek, tante, paman, om nya seperti itu. Kalau perempuan Cuma sendiko dawuh
saja, ya sudah tamat riwayat!, menikah dini punya anak, bingung begini bingung
begitu, ilmu sekolah sudah hilang, lupa.
Lalu yang laki-laki, bisa saja di jadi pekerja kaya, beli properti
ini itu, punya dompet semeter tebalnya. Tapi kalau cuma pekerja, selesai jika
hanya berhenti sebagai anak buah.
Yang paling aman bagi zona para lulusan, tetaplah jadi
pengusaha, pengusaha yang tidak pernah mati, pengusaha yang semangatnya tinggi,
penggusaha yang bisa mengusahakan usaha-usaha mereka, pengusaha yang menjadi
wadah, pengusaha yang menyediakan tempat kerja, pengusaha yang gemar
bersedekah, pengusaha yang bahagia dan membawa berkah, pengusaha yang tidak
lupa dengan Tuhan Yang Maha Esa, pengusaha yang sukses dunianya dan pengusaha
yang kuat imannya.
Tidak kurang dari satu juta sarjana lulus, tidak kurang
dari bibit-bibit masa depan yang terbengkalai, tidak banyak dari mereka yang
bingung mau ke mana. Kalau mengandalkan gaji, kerja sebulan habis satu minggu,
itu sudah rumus yang teruji, siklus berulang setiap bulan berganti. Kebutuhan selalu
bertambah, keinginan ingin dituruti tapi kalau sudah paten, mau tidak mau harus
bersabar, nunggu lagi nunggu lagi.
Rumus itu berlaku bagi mereka yang bekerja, bagaimana
dengan yang tidak bekerja?. Bagi mereka yang kerjanya tidak diakui, Bagi mereka
yang setia menunggu suami hingga sore hari, bagi mareka yang tidak punya banyak
jam untuk istirahat. Ketika mata terbuka, terbuka pula tuntutan rumah tangga,
menyiapkan sarapan, mengantar sekolah. Anak berangkat suami berangkat, ganti
bersih-bersih, ganti masak, ganti mencuci, mengepel dan sebagainya. Baru selesai
anak pulang sekolah, jemput si kecil nyuapi makan menidurkan dan selanjutnya
suami yang pulang, menyiapakan ini itu lagi terus sampai pagi lagi, berputar
lagi pagi lagi malam lagi.
Bisa dibayangkan pekerja apa yang tidak bisa ambil cuti
meski sehari, itupun nggak dapat gaji, gaji tidak utuh, tidak sempat masuk
laci. Ya, memang nasib.
Apakah boleh merasa bosan dan tertekan?. Ah itu bukan
alasan. Ilmu sekolah dulu pasti masih ada lah yang Nyantol meski
sedikit, misal mengajar les kah, atau yang suka seni bisa membuat pernak-pernik
karya tangan. Siapa tahu dari les privat bisa berkembang jadi lembaga bimbingan
belajar, siapa tahu yang hobby bikin pernik bisa menciptakan lapangan kerja,
minimal buat tetangga, mengalir saja. Selain memanfaatkan waktu, memanfaatkan
ilmu, mencerdaskan generasi muda, membantu keuangan yang lainnya, para ibu
rumah tangga tak perlu keluar rumah. Biarkan suami kerja, itu tugasnya. Jadikan
ia donatur, penyumbang terbesar yang tetap, suporter utama, partner special dalam hidup kita. Bolehlah bagi tugas
rumah tangga, agar kata minta Cuti Sehari tidak menjadi alasan para istri
melampiaskan kebosanan waktunya.
#Be creative n Innovative Person
Jumat, 03 Juni 2016
Bbaiti Bytieh Blog: Mas, aku minta CUTI sehari!!
Bbaiti Bytieh Blog: Mas, aku minta CUTI sehari!!: Baiti Rahma Surabaya, 04 Juni 2016 Sebagai lulusan SMK, minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi buk...
Selasa, 31 Mei 2016
TUHAN, BOLEHKAH AKU MENGELUH??
Baiti Rahma, Surabaya (01/06/16)
Hai Penyu, apa yang kamu lakukan?. Boleh aku duduk bersamamu?.
Tentu saja Pipit. Kamu dari mana?
Aku dari pantai mengunjungi pohon kelapa.
Pagi bersemi, pancaran mentari mulai menjalar lagi. Gulung
gemulung bisik gelombang kembali bernyanyi. Nyiurpun melambai-lambai memanggil
sahabatnya kemari. Hai jangan kalian saling mengejar, bagaimana kalau ada
gundukan pasir dan kalian menabraknya. Hai, teman kemarilah, duduklah di bawah
pelepahku yang mengepak ini.
Dengan semangat sekali penyu dan pipit berlari. Mereka meghampiri
satu sahabatnya lagi. Tak peduli dahagapun mereka terus berlomba, biasanya yang
menang akan dapat hadiah, hadiah karangan bunga sebagai mahkota.
Aku bahagia sekali teman-teman.
Kenapa?, Penyu dan pohon kelapa sontak bersamaan
Pekan depan ibuku akan mengajakku ke desa seberang, kata ibu kita
akan memulai hidup baru di sana. Tapi aku juga begitu sedih, itu artinya kita
akan berpisah untuk waktu yang lama.
Pipit, Penyu dan Pohon kelapa saling memeluk, satu sahabat
mereka akan pergi mengikuti ibunya, pipit tak akan mencicit di sini dan mereka
membuat janji. Penyu membuat lubang pasir lalu menanam tiga batu besar di bawah
pohon kelapa. Ia berkata, “kita akan bertemu lagi di sini teman-temanku”.
Hari berganti, bulanpun berlalu. Tahun demi tahun beranjak
begitu saja. Gemuruh air laut kadang maju lalu mundur lagi, berulang-ulang selalu
seperti itu. Kapal-kapal nelayan bergoyang kanan kiri, ada yang menebar jaring lalu
mengangkatnya. Ada juga yang melaju pelan dengan sampannya. Mereka menikmati
setiap usapan angin liar pada anak rambutnya.
Hari ini, 1 Juni 2016. Tiga sahabat kecil telah menjadi
remaja. Mereka berjanji untuk berjumpa pada tanda gundukan pasir. Pohon kelapa
dengan setia menunggu, tak cukup sekali ia meniup angin agar pasir-pasir tidak
mengubur dalam batu persahabatannya. Ia menatap jauh ke lautan, melamun,
membayangkan betapa segarnya jika ia bisa berendam di sana. Meski semenit ia
belum juga merasakannya. Ia terperanjat ketika gelombang itu membawa sesuatu.
Sesuatu yang setengah mengapung tiba-tiba mendekat. Terus mendekat hingga
ahirnya jelas sekali. Sebuah tempurung yang pernah ia kenal, bergambar nama
yang pernah ia dengar.
“Aih, kaukah itu?”. Ia bergumam sendiri. Kilapan cahaya
panas membuatnya mengamati.
“Pohon kelapaaaaaa”.
Suara itu membuatnya tertegun. Benar saja, ia adalah si
Penyu. Sahabat cantiknya yang pelan sekali ketika berjalan. Ia bercerita bahwa
di tengah laut tadi ia bertemu dengan Pipit yang cerewet, badanya lebih berisi
dan nyanyiannya begitu manis sekarang.
“Aih, benarkah
Penyu?”.
“Iya, pohon kelapa”.
Setelah bertemu, Penyu, Pipit dan juga pohon kelapa saling
bercerita. Pipit berceloteh riang sekali, ia bahagia ketika sampai di desa
seberang. Di sana sangat permai, banyak petani yang menanam padi, ia bisa makan
sepuasnya, lalu ketika sore hari ia akan terbang mengelilingi danau lalu menari
bersama kupu-kupu. Malamnya ia akan tidur dengan hangat di atas pohon rindang. Dan
paginya menyaksikan kerbau-kerbau membajak sawah.
Belum selesai Pipit bercerita, Penyu menambah kisahnya. “aku
juga bahagia sekali, empat tahun terahir ini aku selalu berpindah dari satu
benua ke benua lainnya, airnya sangat biru. Aku bertemu ikan warna-warni dan
juga paus hiu yang begitu besar. Kadang aku berjemur di pantai dan bermain
pasir. Di sana juga banya kutemui karang-karang mempesona. Aku sampai tak ingin
berhenti menikmatinya. Lalu apa yang kamu lakukan wahai Pohon kelapa?”. Penyu
bertanya.
Pohon kelapa terdiam, ia menunduk tanpa menjawab. “Selama
ini, aku tak kemana-mana. Jangankan untuk berjalan, melangkahpun aku tak bisa. Kadang
aku marah sendiri, ketika aku melihat betapa segarnya air alut itu, aku ingin
berenang seperti kamu, penyu. Akupun ingin sekali bisa terbang seperti pipit. Bisa
terbang kemanapun ku suka atau bertemu para petani yang bertanam. Aku ingin
sekali seperti kalian, aku iri dengan keadaan kalian. Apakah kalian tahu,
betapa hidup itu tidak adil padaku.”.
Penyu merasa bersalah, ia telah menyakiti hati sahabatnya.
Pipit juga tidak enak hati. Mereka berusaha menghibur sahabatnya.
“Pohon kelapa, maafkan aku”
“Iya, pohon kelapa. Maafkan aku juga”.
Pohon kelapa, apakah kamu tahu?. Ketika aku pergi dari
desa kita ke desa tetangga, aku singgah
sementara waktu di sebuah tempat. Tempat yang begitu indah lebih indah dari yang
pernah kutemui. Di sana aku melihat pohon besar yang berjajar, rapi sekali. Mereka
mengelepakkan sayapnya, lebih kuat dari sayapku, mereka juga bernyanyi lebih
indah dari nyanyianku. Apakah kamu tahu?, Siapa mereka, mereka adalah POHON
KELAPA, sama sepertimu.
Oh aku juga punya cerita, apakah kalian tahu?, aku suka
sekali berenang. Sesekali tenggelam lalu mengapung. Ketika aku mengapung
tiba-tiba saja kepalaku terbentur benda bulat agak padat, aku diam saja dan
melanjutkan hobyku. Besoknya aku berenang kembali. Lagi-lagi aku bertemu benda
itu lagi. Aku tak begitu menghiraukan. Dalam benakku aku bergumam mengapa
selalu ada benda ini di laut lepas. Suatu pagi ketika aku berjemur, punggungku
tak sengaja menyentuh sesuatu. aih lagi-lagi benda ini. Di lautan ada di pantai
ada dimanapun selalu ada. Tapi ini berbeda, benda itu tak lagi bulat saja tapi
mengelurkan sesuatu seperti daun. Kamu tahu?, benda itu persis sekali dengan
buah yang ada di batangmu, dia adalah BUAH KELAPA.
Pohon kelapa, kamu jangan bersedih. Kamu memang tak
seperti kami, tidak bisa berenang ataupun terbang. Tuhan memang menjadikanmu spesial
dengan takdirmu. Lihat saja, tanganmu begitu panjang sehingga matahari tak
menyentuh kami, tubuhmu begitu kokoh hingga kuat menopang tubuh nelayan yang
berteduh. Tidak hanya itu kadang buahmu yang masak kau hidangkan untuk minuman
mereka. Akarmu yang kuatpun menyelamatkan alam kita. Kamu adalah makhluk yang
begitu sabar meskipun ombak selalu menghantammu. Kamu tak pernah marah.
Lalu kenapa kau bilang bahwa Tuhan tidak adil dengan
hidupmu?. Tuhan sangat adil kawanku, apakah kamu tahu?, bisa saja pohon-pohon
kelapa yang kutemui dan juga yang ditemui Pipit adalah anak-anakmu. Sederhana dan
juga kedermawananmu telah membawamu berenang-renang di lautan. Boleh jadi buah
kelapa kemarin adalah buahmu, dia begitu semangat menari mengikuti deru air.
Kalau boleh iri, maka aku dan pipitlah yang harus
mengeluh. Bagaimana tidak, kamu telah memberi banyak manfaat bagi alam ini. Kamu
begitu dicintai, bahkan dirimu sendiri telah melalang buana ke setiap pelosok
Negeri, kamu selau membuahkan kebaikan. Kamu menjatuhkan kebaikan lalu melanglai
jauh ke sana. Menyisir pesona dunia.
Pohon kelapa diam, ia menangis tersedu-sedu. Ia meminta
maaf kepada Tuhan. Ia tak lagi mengutuk diri. Tak lagi mengumpat bahwa ia tak
berguna. Sebuah perjalanan sahabatnya telah merubah pandangannya. Merubah senyum
hambarnya. Ia kembali membahagiakan hidupnya dengan benar-benar bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)



